Translate this page

HomePrice List

Coconut Shells Lump  Charcoals

Coconut Shell Charcoals BriquettesCharcoals InquiryBriquettes InquiryCharcoal Business OpportunityContact Us

Coconut Shells Activated Carbon

Metallurgy Coal Coconut Shell CharcoalsCoconut Shell Charcoal BriquettesWood PelletsSupreme Carbon IndonesiaPrice List




Our Brand: Tanbaro

" Persistence is to the character of man as carbon is to steel "
Napoleon Hill 


Coconut Charcoal


  





 


 


 


 







 











 

KOKAS UNTUK INDUSTRI LOGAM  - KEMBALI KE ARANG
(
For English, please click here)

Sampai akhir abad ke-18, arang kayu dipakai untuk peleburan logam. Produksi logam dengan bahan bakar arang kayu cukup bagus, namun biayanya sangat mahal. Diperlukan sekitar 100 kg kayu untuk melebur 1 kg baja. Batubara biasa juga pernah dicoba, namun hasilnya tidak bagus karena batubara biasa banyak mengandung unsur lain seperti belerang. Ketika logam dilebur, belerang bisa menyebabkan kerusakan pada logam. Oleh karena itu, diperlukan tahapan untuk mengkonversi batubara biasa ke dalam bentuk kokas. Dengan teknik distilasi kering, unsur-unsur lain di dalam batubara bisa dibuang sehingga hasil akhirnya adalah batubara dengan kandungan karbon dan nilai kalori yang sangat tinggi. Batubara yang telah dikonversi ini dinamakan "Kokas". Untuk bahan bakar peleburan logam, kokas sangat layak dipakai..

Sayangnya, sejak Revolusi Industri bergulir, penggunaan bahan bakar fosil seperti kokas dan batubara menyebabkan peningkatan Greenhouse Gas di atmosfir dari 280 ppm menjadi 390 ppm. Dan ini berdampak serius terhadap Pemanasan Global.

Setelah Konferensi Perubahan Iklim yang diprakarsai oleh badan PBB UNFCCC pada tahun 2009 di Kopenhagen, Denmark (COP15), industri logam di Brazil menggagas ide untuk kembali menggunakan arang kayu sebagai pengganti kokas dan batubara. Program yang dinamai "Green Steel for the Brazilian Steel Industry" mengkonversi kayu dari pohon Kayu Putih (Eucalyptus) menjadi arang, yang selanjutnya bisa digunakan untuk peleburan logam. Namun demikian, upaya ini memicu kekhawatiran baru mengenai masalah lingkungan yang bisa ditimbulkan karena pengrusakan hutan meskipun Brazil berencana hanya menggunakan kayu yang berasal dari HTI Kayu Putih.

Tahun 2010, Japan Consulting Institute membuat langkah terobosan untuk mencari alternatif bahan bakar lain yang ramah lingkungan bahkan dengan harga yang lebih murah. Riset yang mereka lakukan menunjukkan bahwa arang cangkang sawit (PKS charcoal) terbukti menjadi bahan bakar yang lebih baik dari kokas ketika dicoba di Tungku Bakar Elektrik (Electric Arc Furnaces - EAF). Sebagai energi tambahan di tungku EAF, arang cangkang sawit lebih unggul dari kokas. Hal ini disebabkan karena arang cangkang sawit mengandung sulfur dan abu yang rendah, di samping itu nilai kalorinya lebih tinggi dari kokas. Gas CO2 yang dihasilkan dari pembakaran arang tidaklah termasuk kategori Green House Gas, sehingga penggunakan arang cangkang sawit bisa diusulkan sebagai Proyek CDM untuk mendapatkan kredit karbon yang bisa diperjual-belikan di bursa karbon internasional. Laporan selengkapnya tentang riset tersebut bisa dibaca di sini.

Keuntungan lain dari pemakaian arang cangkang sawit adalah bahwa abu hasil pembakaran arang cangkang sawit tidak dikategorikan sebagai limbah B3. Anda bisa menggunakan abu tersebut sebagai campuran pupuk atau dibuang sebagai penguruk tanah. Di pihak lain, abu hasil pembakaran batubara dan kokas dikategorikan sebagai limbah B3 (Berbahaya, Beracun, dan Berbau), karena adanya kandungan logam berat. Perlu biaya tambahan yang cukup tinggi untuk mengelola limbah B3 yang dihasilkan oleh pembakaran batubara dan kokas.

Arang Cangkang Sawit sebagai Bahan Bakar Alternatif di Industri Logam

Arang cangkang sawit memiliki nilai kalori lebih tinggi dari kokas dan batubara. Nilai kalori adalah faktor yang sangat penting untuk semua jenis bahan bakar. Untuk tungku bakar elektrik, arang cangkang sawit bisa digunakan sebagai energi tambahan dengan rasio 25 kg arang cangkang sawit untuk 1 ton baja.

Arang Cangkang Sawit sebagai Agen Pereduksi di Industri Logam

Untuk mengekstraksi logam dari biji logam (ore), diperlukan agen pereduksi yang memiliki kandungan karbon cukup tinggi. Karbon akan mereduksi oksigen dari biji logam pada kondisi dengan temperatur tinggi. Untuk keperluan ini, kami membuat arang cangkang sawit dengan kandungan karbon lebih dari 80% sehingga layak dipakai sebagai agen pereduksi di proses metalurgi.

Arang Cangkang Sawit sebagai Karburiser di Industri Baja

Carburizing atau carburising adalah proses pemanasan baja di mana baja tersebut akan menyerap karbon dari material yang kaya kandungan karbon seperti arang cangkang sawit. Proses ini bertujuan untuk mengeraskan baja sehingga berwujud carbon steel yang keras. Sebagai karburiser, arang cangkang sawit yang mengandung karbon tinggi harus dihaluskan berbentuk serbuk berukuran 1 - 5mm.

Perbandingan Mutu Arang Cangkang Sawit dengan Kokas untuk Industri Logam

Tabel di bawah ini menunjukkan bahwa arang cangkang sawit lebih unggul dari kokas. Untuk melihat perbandingan fisik, bisa dilihat di sini.
Karakteristik

Arang Cangkang Sawit

Kokas

Ukuran Partikel

2mm - 8mm

1mm - 15mm

Kandungan Air

1% - 2%

5% - 8%

Abu
Limbah abu

5% - 8%
Bukan Limbah B3

12% - 14%
Limbah B3

Zat Terbang

7% - 16%

2% - 6%

Karbon Tetap

70% -85%

80% - 85%

Nilai Kalori

7200 - 7600 kcal/kg

6500 - 6800 kcal/kg

Sulfur (S)
Fosfor (P)

0,10%
0,02%

0,60%
0,05%

Karbon Netral

Ya

Tidak


  Tertarik untuk membeli arang cangkang sawit untuk industri logam? Silakan kirim penawaran Anda di sini .  




Supreme Carbon Indonesia, Coking coal, coke, softcoke, formed coke, semicoke, coke briquettes, kokas, briket kokas, kokas batubara, foundry coke, metallurgy coal, iron smelting, blast furnace, pig iron, steel casting, peleburan logam, pengecoran logam, metallurgical coke